"Yang maju seharusnya orang yang sudah berbuat nyata, bukan yang baru akan melakukan jika terpilih". Sungguh miris sekali ketika tukang ojek, tukang bengkel, tukang tambal ban, kemudian maju sebagai caleg seolah hanya ingin pindah profesi ke pekerjaan yang lebih banyak uangnya. Modal mereka pun hanya "lebih bisa berempati dengan rakyat kecil"(Mata Najwa Metro TV). Sebelum di Mata Najwa, sebenarnya kita juga pasti pernah mendengar tukang parkir, nelayan sampai badut ikut nyaleg 2014.
Semakin ramai iklan politik meraja, semakin sedikit kita tahu siapa mereka.
Jurus iklan latah menyerang kita, wajah-wajah tak terjamah tanpa isi kepala.
Rakyat selalu dianggap mencari jago, para caleg sukarela bergaya superhero.
Klise & pemanis politik berhamburan, transaksi instan sibuk mencari jalan.
Ketika caleg tak pernah mengakar, caleg masuk akal jadi sangat sukar.
Akhirnya politik menjadi soal modal, rakyat diajarkan memilih yang terkenal.
Semestinya politisi dipilih karena sudah berbuat, bukan karbitan mendadak.
Tapi masih ada yang serius mau mengabdi dan sungguh-sungguh berniat mewakili.
Jadi mari memilih yang kita anggap benar, bukan yang paling terkenal atau banyak uang.
Terakhir, mungkin memang sudah saatnya kita -mendengar nasehat BJ
Habibie- membuat kriteria standar calon legislatif dan calon presiden,
tidak cukup syarat minimal SMA layaknya para pencari kerja. Urusan
pejabat yang memikirkan nasib warga jelas sebuah urusan serius, bukan
sekedar bekerja dan terima gaji. Ada banyak pertimbangan, keputusan dan
kebijakan yang kalau salah akan berdampak besar dan menyeluruh. Berikut beberapa kriteria menurut Prof. BJ. Habibie :
- Pemimpin harus bisa mengkombinasikan 3 unsur peradaban, yakni agama, budaya dan iptek. Hal ini akan mencerminkan kualitas kesejahteraan.
- Pemimpin harus memiliki visi.
- Pemimpin sejati harus fokus pada hal-hal spiritual.
- Kekayaan bagi pemimpin hanyalah untuk beramal, bukan untuk mendapat penghargaan.
- Pemimpin melayani sesama, lebih mengutamakan relasi dibandingkan dengan status dan kekayaan.
Selain itu ada beberapa syarat mutlak yang harus menjadi modal utama calon pemimpin menurut salah seorang Pengamat Politik.
Integritas Intelektual
Integritas
intelektual caleg harus memiliki kompetensi keilmuan dan wawasan.
Kemampuan ini tidak hanya dibuktikan dengan selembar ijazah atau gelar
yangberderet panjang di depan atau di belakang namanya.
Karena
banyak di negeri ini yang bergelar dan berijazah namun kualitas
berfikirnya dipertanyakan. Pendidikan tinggi memang membantu memiliki
kematangan integritas intelektual. Indikatornya adalah kemampuannya
dalam menulis konsep, berbicara dan mendengarkan.
Kualitas
intelektual caleg bisa dilihat ketika dia berpidato/kampanye. Apakah
bahasanya baik dan berbobot, bisa menulis gagasan serta mau mendengarkan
keluhan warga dan mencari jalan keluar
Sebab tugas dan wewenang legislatif adalah membuat peraturan atau
legislasi, pengawasankontrol dan menyusun anggaran badgeting.
Bagaimana mungkin dia bisa bekerja sesuai tugasnya jika anggota Dewan
tersebut tidak bisa menulis, menyampaikan gagasan dan memperjuangkan
aspirasi rakyat di gedung parlemen. Integritas intelektual legislatif berdampak pada output kebijakan
pemerintah. Seperti kebijakan dan produk hukum yang tidak pro rakyat,
banyak masalah publik yang terabaikan, anggaran yang tidak memihak
kesejahteraan masyarakat. Padahal disisi lain, pihak eksekutif sudah
terdidik dan terlatih dalam membuat kebijakan publik. Sementara anggota
Dewan setiap periode pasti ada wajah baru yang manggung, dengan
kemampuan yang beragam.
Integritas Sosial
Kriteria
kedua adalah seorang caleg harus memiliki integritas sosial. Integritas
ini untuk mengukur tingkat kepedulian caleg terhadap berbagai persoalan
yang dihadapi masyarakat. Kepedulian ini tidak bersifat instan, ketika
ada kepentingan politik menjelang pemilu.
Tetapi
bisa dilihat kiprahnya di masyarakat, apakah sebelum dan sesudah
menjadi caleg ada konsistensi perilaku kepedulian terhadap problem
masyarakat.
Hal
serupa bagi anggota Dewan yang manggung, apakah sebelum dan selama
menjadi anggota Dewan tetap merakyat, memperjuangkan kepentingan umum
atau tidak. Jika tidak, kesimpulannya dia bukan pejuang sejati tetapi
seorang oportunis. Dengan kata lain, kita hanya sia-sia jika harus
memilih kembali anggota Dewan atau caleg seperti itu.
Integritas Moral
Aspek
lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah seorang caleg wajib memiliki
intergritas moral. Persoalan moral erat kaitannya dengan pengamalan
agama seseorang.
Seperti halnya kriteria Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa harusnya variable yang terukur, bukan sekadar bukti fisik Kartu Tanda Penduduk bahwa dia warga negara yang beragama.
Moral
bisa dilihat pengamalan agamanya dalam kehidupan sehari-hari di
keluarga, masyarakat dan lingkungan kerjanya selama ini. Moral dalam
kejujuran, keberanian membela yang benar, mengajak dan mengajarkan
kebenaran, menegur dan mencegah kejahatan. Dengan sikap ini kita yakin
seorang caleg akan konsisten memperjuangkan kebenaran demi kesejahteraan
masyarakat.
Pada
kesempatan ini, saya mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia agar
memanfaatkan kesempatan pemilu mendatang memilih caleg yang betul-betul
memiliki kapabilitas dan integritas yang tidak diragukan.
Coba
bayangkan jika kita salah memilih di pemilu, maka lima tahun kita
tidak mengharapkan apa-apa. Alangkah baiknya sebelum memilih caleg
terlebih dahulu memperhatikan kemampuan serta kapabilitas yang terukur.
Saya bermimpi, 2014 nanti yang bisa maju sebagai caleg ibarat mereka
yang berhasil mendapat beasiswa, setelah susah payah memenuhi sekian
banyak syarat dan lulus tes wawancara. Karena menjadi pemimpin adalah
kombinasi nalar, naluri dan hati nurani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan coment Disini.
Terimakasih atas partisipasinya. Saling berbagi dan memberi.