Kita sering terjebak
dalam kotak yang terlihat indah, padahal belum tentu indah jika dinikmati.
Hidup tak lepas dari sebuah pelajaran, dalam kondisi apa pun manusia melaluinya
meski dengan jalan tempuh yang berbeda-beda. Keputusan memilih untuk mendapat
pembelajaran yang terbaik adalah hak.
Yaya
yang kebetulan pada saat itu lulus kuliah dari Unissula Semarang &
menyandang gelar sebagai Sarjana Pendidikan Islam, bermaksud mencari pekerjaan
yang layak di Semarang. Background pendidikan yang disandangnya seharusnya
membuatnya melamar menjadi guru di sekolah, atau paling tidak menjadi staff
akademisi. Tapi pilihan itu tidak diambilnya, melihat peluang menjadi guru di
Kota Semarang sangat minim, apalagi bagi lulusan yang belum memiliki pengalaman
sama sekali.
Secara
tidak sengaja, Yaya bertemu dengan Kakak kelasnya yang bekerja di Astra
Daihatsu Semarang. Dari temannya itu ia kemudian mendapat informasi bahwa ada
perusahaan di daerah Pedurungan yang membutuhkan karyawan, tepatnya untuk
mengisi jabatan sebagai sekretaris.
Berbekal
alamat dan no hp, Yaya dengan semangat berangkat menuju ke perusahaan yang
dimaksud untuk memberikan surat lamaran pekerjaan. Sudah sampai di daerah
pedurungan, Yaya mencoba menebak, mungkin di gang ini adalah tempat yang
dimaksud karena rumahnya besar-besar. Pikir Yaya bahwa seorang Pengusaha pasti
Rumahnya besar, ramai, dan ada mobil di depannya. Melihat alamat yang ia
pegang, dari timur ke barat mondar mondir ia tidak juga ketemu dengan rumah Bp.
Bawika.
Ia
mencoba bertanya kepada orang yang ada di pinggir jalan. “Bu, nyuwun sewu. Ngertos dalemnya Pak Bawika?”
“Bawika???, wuah
mboten ngertos niku. Cobi ke gang sebelah”. Jawab Ibu yang kelihatannya juga belum yakin atas
ucapannya.
Karena
tak kunjung ketemu, Yaya memberanikan diri langsung menghubungi no hp Bawika.
Dan benar, rumah Bawika tepat berada di gang sebelahnya. Yaya bergegas kesana
dan sampai juga ia di depan rumah Bawika.
“Kecil
sekaliiiiii, masak ini perusahaannya???”, gumam Yaya dalam hati.
Di
rumah itu ia temui beberapa orang laki-laki yang sedang mengelas besi. Salah
satu dari mereka menghampiri Yaya dan ternyata dia adalah Bawika.
Yaya
bertambah heran, “masak ini bosnya???”
Bawika
kemudian memintanya untuk menuju ke kantor yang ada di belakang. Melewati
lorong yang cukup sempit, jalan yang hanya cukup dilewati satu unit motor.
Ternyata ada sebuah ruangan kusus yang sudah disediakan oleh Bawika untuk
calon-calon karyawan Back ofice. Yaya adalah kandidat pertama yang Bawika
panggil meski banyak pelamar yang berkasnya sudah masuk.
Memasuki
ruangan berukuran 6 X 8 meter, hanya ada 1 meja dan 1 komputer tepat di pojok
ruangan, atap yang masih menggunakan bambu sebagai penyangga. Perasaan Yaya
bertambah tidak karuan. Ragu bercampur heran.
Muncul
lagi pertanyaan Yaya dalam hati, “Masak begini kantornya???”
Kemudian
mulailah Bawika melakukan wawancara. Menurut Yaya ini aneh, ia langsung
diwawancara oleh bos perusahaan yang dengan santainya masih menggunakan kaos
dan celana pendek. Mulailah
Bawika bertanya mengenai motivasi bekerja, bakat, minat, dll. Bawika juga
menanyakan berapa jumlah gaji yang diinginkan. Terakhir, sebuah kalimat yang
terlontar dari mulut Bawika, “saya tidak
butuh orang-orang pintar, yang saya butuhkan adalah orang-orang yang mau
belajar dan siap untuk dikembangkan. Biarpun perusahaan saya kecil, saya akan
memulainya dengan pondasi yang kuat”.
3
hari setelah wawancara, Yaya mendapat jawaban dari Bawika bahwa ia diterima
bekerja. Mulai tanggal 6 Juni 2013 Yaya menjadi Karyawan perdana di back ofice
CV. Mansgroup dengan jabatan pertamanya, “Admin Counter”. Kalimat pertama yang
ia dengarkan dari seorang bos bernama Bawika “biarpun badan kamu kecil, saya akan menjadikanmu kecil-kecil cabe
rawit.”
Kisah nyata yang dialami Yaya dapat kita ambil beberapa pembelajaran :
- Menjadi pengusaha bukan berarti harus terlihat mewah. Bukankah Rasulullah mengajarkan bahwa berbisnis & bersedeah harus seimbang?
- Tidak semuanya yang terlihat kecil akan kecil pula maknanya. Bukankah yang kecil tapi berisi lebih baik daripada besar tapi kosong?
- Tempat ternyaman adalah suatu kodisi dimana kita akan mendapat pembelajaran, bukan keuntungan.
Kini perusahaan Bawika berkembang pesat merajai nusantara, bahkan sudah dilirik oleh manca negara. Yaya sekarang menduduki jabatan sebagai HRD. Alhamdulillah. .
Alhamdulillah. Kisah nyata yang sangat menarik. Saya sangat tertarik dengan inspirasi artikel ini. Anda pun tetap menjunjung tinggi nilai agama Islam dalam pekerjaan. Saya salut dengan Anda. Salam kenal ya. Mari ta'aruf. Kalau ada waktu bisa berkunjung di blog saya ya. Saya tunggu ya.
BalasHapus